Apa Aja

Apa Aja

Senin, 16 Agustus 2010

PENGALAMAN PERTAMA


ass... gmna kbrnya, baik2 aja kan?????

. oia hari ini merupakan hari yang pertama sy melakukan seuatu yang belum pernah sy lakukan seumur hidup..... 20 x lagi....
apa kata dunia ya!!!

tapi itulah kenyataannya,
mudah2an dapat menjadi evaluasi kedepanya supaya lebih baik lagi....


sungguh tak disangka, walaupun pengalaman dengan 20x tapi tidak menjadi masalah karena hal itu baik dn bermanfaat untuk dilanjutkan.. mudah2an yang diatas memberikan pertolongan dan kesehatan serta kekuatan apapun...

Sabtu, 14 Agustus 2010

Tafsir QS:Ali IMRON : 159
TENTANG AKHLAQ DAN KAITANNYA DENGAN DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
[246]. Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
Akhlak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.a.w.
Allah SWT berfirman dengan kalimat yang ditujukan kepada RasulNya yang juga merupakan karunia bagi orang-orang beriman secara umum bahwa; hanyalah dengan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, sekiranya kamu berhati keras lagi berlaku kasar, tentulah mereka akan meninggalkan dirimu.
Berkata Abu Umamah Al-Baahiliy: “Rasulullah pernah menarik tanganku seraya berkata: “Wahai Abu Umamah, sesungguhnya di antara kaum Muslimin itu ada orang-orang yang hatiku menjadi lemah lembut karenanya”.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada ku untuk mengelilingi ummatku sebagaimana Allah memerintahkanku dalam melaksanakan ibadah fardhu”. Yang demikian itu adalah gambaran bagaimana Rasulullah menjalin kasih sayang terhadap kaum Muslimin dengan membiasakan diri bershilaturrahmi ke rumah-rumah mereka di tempat kediaman mereka, sehingga terjalinlah hubungan persaudaraaan yang terukir di dalam kalbu. Beliau sanantiasa berlapang dada untuk meaafkan kesalahan ummat, bahkan senantiasa memohonkan ampun bagi mereka sebagaimana Allah perintahkan kepada beliau.
Disamping itu Nabi juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat tentang berbagai persoalan yang dihadapi agar hati mereka menjadi tenteram dan bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.
Sebagai contoh misalnya; ketika perang Badar beliau bermusyawarah dengan kaumnya, tatkala kafilah dagang Abu Sofyan telah luput, yang tinggal hanyalah pasukan Qurisy, Rasulullah mengajak berunding para sahabat tentang kesediaan dan kesanggupan mereka untuk menghadapi pasukan siap tempur Quraysy yang jumlahnya tiga kali lipat?. Maka merekapun berseru “Yaa Rasulullah sekiranya engkau mengarungi lautan niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, jika pun engkau berjalan hingga Birkul Ghamad (suatu tempat terpencil di Yaman yang sangat sulit untuk didatangi) maka kami pun akan menempuhnya bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Nabi mereka; “pergilah engkau dengan Tuhanmu dan peranglah kamu berdua, kami akan duduk menunggumu di sini, akan tetapi kami berkata; pergilah dan kami akan tetap bersamamu, kami ada di depanmu, kami ada disebelah kanan dan kirimu tetap berperang bersamamu” ketika itu serta merta berseri-serilah wajah Rasulullah SAW, beliaupun bangkit dan berseru: “Absyiruu ayyuhal qouwm…….Bergembiralah wahai kaumku, aku sudah melihat, kemenangan sudah di depan mata” .
Dengan musyawarah itu, semangat kaum muslimin menjadi semakin berkobar-kobar. Mereka menjadi tahu betul kondisi mereka, maka mereka bertempur dengan gagah berani hingga Allah benar-benar memberi kemenangan kepada mereka. Meski jumlah mereka hanya 313 sementara musuh berjumlah hingga 1000 orang dengan persenjataan lengkap. Demikian pula ketika perang Uhud, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, apakah bertahan di Madinah atau keluar menyongsong musuh. Maka merekapun menyongsong musuh dibukit Uhud.
Demikian pula dengan perang Khandaq beliau bermusyawarah dengan para sahabat ihwal perdamaian dengan kaum yang bersekutu (pasukan Ahzab) yang sudah mengepung Madinah, mereka akan menghentikan pengepungan jika diberi sepertiga dari buah-buahan dari hasil panen tahun itu, namun Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah menolaknya dengan berkata: “Demi Allah, dalam keadaan jahiliyahpun kami tidak hendak memberikan mereka cuma-cuma, demi Allah kami tidak akan memberikan sebutirpun setelah Allah memuliakan kami dengan Islam”
Allah SWT telah menurunkan rahmat-Nya dengan menjadikan hati Rasulullah menjadi hati yang lembut, santun dan penuh kasih sayang. Dan menjadikan ummatnya menjadi hamba-hamba Allah yang meneladani beliau SAW sebagai panutan, maka menjadi patutlah mereka mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana pertolongan yang Allah berikan kepada para Rasul sebelum beliau SAW. Allah berfirman “…Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu…..” meski sedemikian hebatnya Fir’aun dan bala tentaranya, dan sedemikian lemahnya Musa dan para pengikut setia beliau, ketika Allah mendatangkan pertolonganNya kepada Musa, maka Fir’aun dibinasakan oleh Allah, justeru ketika dia dan bala tentaranya sedang mengejar-ngejar Musa. Sejarah membuktikan bahwa; dengan pertolongan Allah lah maka Fir’aun binasa bukan karena dia dikejar-kejar oleh Nabi Musa AS dan para pengikut beliau yang lemah-lemah.
Pada pasukan Badar yang tidak seimbang jumlahnya dengan musuh, kemenangan yang mereka raih semata-mata karena pertolongan Allah dan karena mereka pantas mendapatkan pertolongan, demikian pula dalam peristiwa-peristiwa lainnya. Allah mendatangkan pertolonganNya kepada mereka yang lemah dan teraniaya, yang ber akhlaq mulia, yang santun, yang taat dan istiqomah, dan yang senantiasa bertawakkal kepada Allah semata.
Allah berfirman: kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad ( ber-azam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah ditanya tentang kata azamta dalam ayat ini, maka beliau bersabda: “maksudnya adalah bermusyawarahnya ahlur ra’yi kemudian mengikuti mereka”.
Bertawakkal artinya menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata, setelah mengerahkan semua daya upaya semaksimal mungkin, sudah semua kemampuan dikerahkan, semua harta sudah dikorbankan, semua usaha sudah dilakukan dan semua jalan sudah ditempuh, sesuai dengan kemampuan, tentunya, maka tinggal menunggu datangnya pertolongan Allah dengan sabar dan penuh pengharapan. ”Sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat” (Al Baqoroh 214)
Jika Allah berkenan menolong, maka tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mengalahkanmu, demikian pula jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, Allah SWT berfirman….. jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?…. kekuatan sebesar apapun yang ada di belakangmu tidak akan lebih besar dari kekuatan Allah. Maka tidaklah pantas engkau menyombongkan diri sedikitpun untuk menentang Allah.
Pertolongan Allah itu hanya datang kepada hamba-hambaNya yang lemah lembut dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT, hamba-hambaNya yang santun dan tidak menyombongkan diri, dan hamba-hambaNya yang senantiasa menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah semata. Hamba yang pantas mendapatkan pertolongan Allah itu adalah mereka yang telah membuktikan kesabarannya dalam menghadapi berbagai goncangan, yang tetap istiqomah dan pantang menyerah (Qs. 2 : 214).
Dengan kasih sayang dan lemah lembut itulah Islam disampaikan kemudian diterima oleh sebagian besar penduduk Yatsrib (Madinah). Sahabat setia Rasulullah, Mus’ab Bin Umair, dengan sangat santun dan lemah lembut menyampaikan Islam kepada mereka. Meski pada awalnya beliau dilontari kata-kata sinis dan kasar, dengan lembut dan senyum ramah yang khas, yang senantiasa menghiasi bibir beliau menjawab: “saya datang kemari untuk menyampaikan kebenaran Islam, jika tuan bersikap bijak, maka dengarkanlah dahulu apa yang saya sampaikan ini dengan seksama, jika tuan-tuan setuju, saya mengajak tuan untuk bergabung dalam perjuangan untuk menegakkan kebenaran, jikapun tuan tidak suka, tuan dapat meninggalkan saya dan sayapun akan meninggalkan tuan”.
Kalimat muqoddimah yang sangat santun dan bijak, maka ketika mereka sudah mendengar uraian yang terang dan jelas tentang ajaran Islam yang beliau sampaikan, diantara mereka ada yang serta-merta masuk Islam, meski ada juga yang belum bersedia. Tapi kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa Mus’ab bin Umair telah berhasil mengislamkan kota Yatsrib hingga menjadi darul hijrah bagi Rawsulullah hingga disebut Madinatur Rasul (kota Rasul) dan hingga sekarang disebut Madinah.
Demikianlah islam tegak pertama kali di Madinah, tidak dengan perang, tidak dengan jihad lalu menaklukkan dan memaksa penduduknya untuk menerima Islam, tapi dengan dakwah dan kasih sayang. Ketika Islam sudah tegak, lalu ada fihak yang akan merongrongnya, untuk mempertahankan eksistensi Islam itu, barulah diperintahkan jihad. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam tidak pernah muncul sebagai suatu kelompok yang mengatasnamakan jihad untuk merampok kekuasaan dari tangan orang lain dengan kekerasan senjata, tetapi dengan penuh keyakinan bahwa kebenaran ideologi Islam ini pasti dapat diterima oleh hati orang-orang yang sadar untuk diamalkan dan dengan tulus ikhlas, tanpa harus ada pemaksaan atau penekanan dalam bentuk apapun. Kita yakin bahwa sebuah ideologi yang benar, tidak harus dipaksakan dulu baru mau diterima oleh Ummat. Tidak juga harus dengan iming-iming harta dan kekuasaan. Melainkan dengan kasih sayang sebagaimana firma Allah dalam (QS 9 ayat 128).
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. 9 : 128)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhati lembut dengan rahmat Allah, semoga sifat kaku, keras dan kasar yang masih menghinggapi hati kita segera dihilangkan Allah dan diganti dengan kasih sayang, sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh rongga dada. Ya Allah … jadikanlah kami orang yang pandai berkasih sayang terhadap semua makhluqMu, pandai memaafkan dan pandai bertawakkal kepada engkau semata. Ya Allah, jadikanlah kami orang yang memang pantas untuk Engkau tolong, yang senantiasa menyandarkan diri kepadaMu, dan yang memang pantas Engkau beri kemenangan dengan kasih saying-Mu. Amin.

Rabu, 16 Juni 2010

HATI BERBICARA


TERNYATA DUNIA INI SULIT UNTUK DITEBAK KARENA BANYAKNYA TEKA-TEI PILIHAN YANG HARUS DISARING SUPAYA TIDAK SALAH PILIH.

DIKALA HATI BERBICARA MAKA AKAN MUNCUL SEJUTA MAKNA YANG TIDAK BISA DIBENDUNG SAMPAI DIMANA MAKNA ITU DITAHAN UNTUK TIDAK KELUAR.....

SAAT HATI BERKATA " SY AKAN MEMBUAT DIRI TAMPIL MENARIK DIHADAPAN PENCIPTA DAN INGIN MENGABDI KEPADANYA DENGAN SEPENUH TENAGA YANG SAYA MILIKI, MAKA AKAN KULAKUKAN HAL ITU SESUAI DENGAN KEMAMPUAN DI DALAM DIRI INI....."

SUNGGUH BAHAGIA JIKA HATI INI BISA MENGETAHUAIJALAN YANG MANA YANG BISA MEMBAWA KE ARAH YANG JELAS DAN TIDAK MEMBINGUNGKAN, KARENA ITULAH YANG HARUS DIKLIHAT ADALAH HATI BISA MENGETAHUI APA YANG INGIN DIKETAHUINYA SEANDAINYA KITA MAU BERFIKIR AKAN HAL ITU.....

TAPI SULIT SEKARANG INI UNTUK MENGETAHUI MANA YANG BAIK DAN YANG TIDAK BAIK BAGI DIRI DAN HATI KITA SENDIRI....

BAGI YANG MENGIKUTI KATA HATI YANG PALING DALAM DAN BENAR MAKA ITULAH JAWABAN YANG SEBENARNYA DALAM APA YANG MENJADI PERTANYAAN SELAMA INI.....

Kamis, 03 Juni 2010

KONSEP-KONSEP FILOSOFIS TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

BAB I PENDAHULUAN
Pendidikan atau al-Tarbiyah, menurut pandangan Islam adalah merupakan bagian dari tugas kekhalifahan manusia. Karena manusia adalah khalifah Allah, yang berarti bahwa manusia mendapat kuasa dan limpahan wewenang dari Allah untuk melaksanakan pendidikan terhadap alam dan manusia, maka manusialah yang bertanggungjawab untuk melaksanakan pendidikan tersebut.
Mendidik atau melaksanakan aktivitas al-tarbiyah, menurut arti dasarnya adalah mempertumbuh dan mengembangkan alam dan manusia. Pendidikan sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia, menurut pandangan Islam, harus dilaksanakan oleh manusia secara bertanggung jawab. Pertanggung jawaban baru bisa dituntut kalau ada aturan pedoman pelaksanaannya. Islam memberikan konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan, dan menjadi tamggungjaawab manusia untuk menjabarkan dan mengaplikasikan konsep-konsep dasar tersebut dalam praktek kependidikan.
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Filosofis Tentang Arti Pendidikan Islam
Pendidikan adalah suatu aktifitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dalam pengertian yang luas pendidikan adalah sama dengan hidup artinya segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Sedangkan pengertian pendidikan yang sempit adalah sekolah persekolahan (schooling).
Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad al-Touny al-Syaibani, diartikan sebagai “usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan”.
Islam memandang pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup, dan oleh karenanya Islam menetapkan, pendidikan merupakan kegiatan hidup yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita (faridhatun ‘ala kulli muslimin wal muslimat), tidak ada batasan untuk memperolehnya (walau kaana bi tsin), dan berlangsung seumur hidup semenjak buaian hingga ajal datang (minal mahdii ila lahdi).
Kedudukan itu secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. John Dewey mengemukakan bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup, salah satu fungsi sosial sebagai bimbingan, sebagai sarana pertumbuhan, yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.
B. Analisa Tentang Dasar-dasar Pendidikan Islam
Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Dasar pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam al-Qur’an, tercantum dalam surat asy-Syura ayat 52 dengan artinya:
Artinya: “Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS. As-syuura. 52)
Hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya:
Artinya: “sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang enantiasa tegak taat kepadanya dan memberikan nasihat kepada hambanya sempurna akal fikiranya, serta menasehati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajarannya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan”. (al-Gazali, Ihya’ ulumuddin, hal 90).
Dari ayat al-Qur’an dan hadits Nabi di atas dapat diambil relevansinya dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, mengingat:
1) Bahwa al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridhai Allah Swt.
2) Menurut Hadits Nabi, bahwa di antara salah satu sifat orang mu’min yaitu saling menasehati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3) Al-Qur’an dan hadits tersebut bahwa, Nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.
C. Analisa Tentang Tujuan Pendidikan Islam
Berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasikan idealitas Islami. Sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai prilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Adapun dimensi kehidupan yang mengandung nilai ideal Islami dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:
1) Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia.
2) Dimensi yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akhirat yang membahagiakan.
3) Dimensi yang mengandung nilai yang dapat memadukan antara kepentingan duniawi dcan kepentingan ukhrawi.
Menurut Prof. Dr. Muhammad Athiyah Al-Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 (lima) tujuan yang asasi bagi pendidikan Iislam yang diuraikan dalam “At-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa Falsafatuha” yaitu :
1) Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia
2) Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
3) Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu
4) Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya ia dapat mencari rizki dan hidup dengan mulia di samping memelihara kerohanian dan keagamaan.
5) Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun yang dapat kami simpulkan dalam makalah ini sebagai berikut:
 Pendidikan adalah suatu aktifitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup.
 Dasar pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam al-Qur’an, tercantum dalam surat asy-Syura ayat 52, Hadist Nabi Muhammad SAW yaitu pada al-Gazali, Ihya’ ulumuddin, hal 90.
 Tujuan pendidikan islam adalah merealisasikan idealitas Islam dengan nilai prilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
B. Saran
Agar supaya makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi, oleh karena itu kami selaku pemakalah senantiasa menerima saran dan kritik dari dosen yang bersangkutan serta kepada teman-teman. Mudah-mudahan makalah ini dapat menjadi bahan referensi untuk menggali filsafat pendidikan lebih mendalam lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Mudyahardjo, Redja. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Cet. IV. 2006.
Arifin, Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara. Cet. II. 2005.
Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara. Cet. III. 2004.
Al-Toumy al-Syaibany, Omar Mohammad. Falsafah Pendidikan Islam. Penj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang. 1979.